Rss Feed
  1. Puisi

    Minggu, 10 Desember 2017

    Banyak puisi yang lahir dari hujan
    Banyak hujan yang mungkin lahir dari riuh di batinnya
    Atau ada yang membuka kran di mata seseorang?

  2. Jika sepagi tadi hujan
    lalu ada setitik air hujan menempel di kaca jendelamu
    Dapatkah kau dengar "semangat pagi"?
    Itu aku

  3. Mendung
    Hujan
    Lalu petrichor
    Ini bukan tentang ingatan pada seseorang
    Tapi aroma hujan mengingatkan kita
    Bahwa segala yang naik pasti akan turun
    Entah dengan terpaksa atau sukarela

  4. Samudera

    Minggu, 18 Juni 2017

    Terimakasih telah kau samuderakan hatimu.
    Samudera itu mungkin akan selalu luruh di sudut mata.
    Menjadi titik titik titik.
    Kemudian ku kristalkan
    Lalu tak pernah ku kehabisan garam

  5. Jangan Bosan Tuhan

    Senin, 01 Mei 2017

    Senja tanpa suara dimana do'a-do'a mulai mengangkasa
    Tuhan
    Ku harap Engkau tak bosan
    Sering kali doa ku bisikkan
    dengan isak-isak perlahan
    tapi kejalangan hati kami tetap bertahan
    Biarkan ku pinjam sajakMu Tuhan
    untuk kemudian ku kembalikan sebagai do'a
    Rabbana dzolamna anfusana wa illam taghfirlana wa tarkhamna lanakuunanna minal khosiriin.(Q.S 7:23)

  6. Sarang Angin

    Rabu, 19 April 2017

    Seperti hari yang selalu ku jelang
    Dengan menggiring angin untuk selalu kembali ke sarangnya
    Berharap angin masih diberi kesempatan
    Untuk pulang ke tempat dimana ia harus kembali

  7. Nama

    Kamis, 13 April 2017

    Deretan abjad acak lama-lama kian terbentuk
    Terangkai nama
    Seperti menuntun rindu yang hilang arah
    lama-lama ditemukannya jalan kembali
    Pulang
    entah
    Apakah kutemukan pula namaku dalam aksaramu?

  8. Apakah kelak aku adalah anginmu
    yang menukarkan api jadi jingga
    yang semburat di cakrawala penghujung senja
    tanpa mendesirkan kehilangan
    dari rinduku yang lebam

  9. Malam beranjak
    Langit sudah tak menyisakan apa-apa lagi
    Selain bayanganmu
    Bi

  10. Sesore ini tapi awan-awan masih melukiskan wajahmu
    Kemudian gerimis turun
    Wanginya seperti memaksaku meluruh
    Dan berjatuhan menjadi titik-titik gerimis
    Di kaca jendelamu

  11. Kenapa hati tidak sekuat itu menampung rasa yang bergemuruh menjadi badai,
    Kemudian lama-lama tergenang di pelupuk mata
    Lalu jatuh menjadi bulir-bulir kesedihan
    Yang hanya bisa kupunguti repih-repihnya
    Kemudian aku tau, sesak di dada ini adalah bukti
    Bahwa hati sedang tidak bercanda menguji tuannya

  12. Ada rumah di kepalaku
    tempat dimana aku menempatkanmu
    di ingatan terbaikku
    (hidemeondsky)

  13. Matahari tenggelam
    Para petani telah pulang
    tapi seseorang masih sibuk memanen sesuatu
    mungkin masa lalunya